Pages

Monday, January 3

Kisah LPI dan Niat Baik Penyelamatan APBD Ratusan Milyar Pertahun.

Kisah LPI dan Niat Baik Penyelamatan APBD Ratusan Milyar Pertahun


Disaat banyak sekolah roboh, dana kesehatan menciut, banjir dan kemacetan tak terpecahkan, infrastruktur rusak parah ternyata ada bancakan dana APBD ratusan milyar pertahun yang dikemas dalam panggung teater sepakbola. Ironisnya uang rakyat itu dihamburkan untuk pertunjukan bola yang tidak menghasilkan prestasi apapun selama bertahun-tahun!
Entah apa yang ada di pikiran orang tua Alfan (6 tahun) begitu mendengar anaknya terluka dan terpaksa menerima 3 jahitan di kepala akibat tertimpa runtuhan TK-nya yang roboh. Pagi tadi mereka mengantar Alfan ke sekolah untuk belajar bukan untuk ‘dihajar’. Lebih miris lagi ternyata Alfan tidak sendirian, ada Adam (6 tahun) yang juga jadi korban. Akibatnya sekolahnya roboh, 105 murid TK 10 November terpaksa melanjut kegiatan belajarnya di balai RW 14, Kecamatan Peneleh, Surabaya.
Menurut Fatimah, Sang kepala sekolah, pihaknya sudah mengajukan proposal perbaikan sekolah ke Pemprov Surabaya pada tahun 1985 dan 2005. Namun, permohonan tersebut tidak ditanggapi Dinas Pendidikan Surabaya.”Kami tidak mengerti mengapa proposal kami tidak ditanggapi. Kami sangat menyayangkan hal ini. Apalagi murid kami sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu,” kata Fatimah.
Orang tua Arlan dan Adam, juga Ibu Guru Fatimah pasti akan tambah ngenes kalau tahu bahwa ada dana APBD Pemprov Surabaya ratusan milyar yang terbuang di lapangan bola lewat Persebaya sejak format kompetisi Liga Indonesia digulirkan pada tahun 1994. Sebuah liga yang awalnya didesain untuk membentuk klub profesional. Tapi kenyataannya malah membentuk klub-klub manja yang merengek dan menyusu dana APBD bahkan sampai hari ini, 15 tahun setelah kompetisi digulirkan.
Ahhh..kalau saja Ibu Guru Fatima mau sedikit membaca berita tentang Persebaya akhir-akhir ini, pasti tambah ngenes dan bertambah pusing lagi. Persebaya yang berniat bertobat dengan berhenti menggunakan uang APBD dan memilih bergabung dengan Liga Primer Indonesia (LPI) yang didanai oleh sebuah konsorsium swasta, terus menerus diteror oleh PSSI dan Pemprov Surabaya sendiri. Persebaya LPI dihukum dan dijatuhi sangsi oleh PSSI, sementara Pemprov melalui walikota mengusir Persebaya LPI dari mes Persebaya meskipun mampu membayar sewanya. PSSI malah membentuk Persebaya jadi-jadian yang semua pemainnya ditransmigrasikan dari Persikubar (Kutai Barat) dan diketuai oleh ketua DPRD Surabaya Wisnu Wardhana. Bisa dengan mudah ditebak kalau Persebaya bentukan PSSI ini masih akan menggunakan dana APBD yang sedang dinanti oleh Ibu Guru Fatimah dan kepala sekolah-kepala sekolah yang lain.
Bukan hanya di Surabaya, hampir semua klub peserta Liga Super Indonesia (ISL) dan juga kompetisi dibawahnya (Divisi Utama, Divisi I,II dan III) masih menggunakan modal APBD. Klub-klub dari kota besar rata-rata menggunakan 20 - 30 milyar dalam satu musim. Persija Jakarta contohnya, meskipun mengajukan proposal sampai 40 milyar diawal musim, akhirnya DPRD Jakarta ‘cuma’ mengabulkan 21 milyar. Meskipun cuma 21 m, duit segitu kalau digunakan untuk mengatasi masalah kemacetan bisa membeli 14 biji busway baru sehingga bisa menambal kekurangan armada di beberapa koridor. Atau untuk mengatasi masalah banjir, duit itu bisa membangun beberapa rumah pompa di Cilincing sehingga banjir rob akan cepat surut. PSM Makasar pun menghabiskan APBD dengan jumlah yang tidak jauh berbeda dengan Persija, sekitar 23 milyar per musim. Sementara klub kota kecil rata-rata menghabiskan 10 milyar dalam semusim. Sebuah jumlah yang cukup besar untuk kota kecil macam Bojonegoro dengan Persibo-nya atau Jepara dengan Persijap-nya. Kalau kita hitung rata-rata 15 milyar per klub, berarti dalam satu musim kompetisi ISL saja ada 15 milyar APBD dikalikan 15 klub (3 klub sudah bebas APBD) jadi totalnya adalah 225 milyar!!! Belum lagi kalau kita hitung kompetisi divisi-divisi lain dibawah ISL. Sebuah jumlah yang mencengangkan.
Sayangnya, di bawah kendali PSSI, jumlah penghamburan APBD yang mencengangkan itu tidak menghasilkan prestasi apa-apa kecuali menghasilkan puluhan milyar uang sponsor dan televisi yang masuk ke kantong PSSI. Tidak dengan hasil prestasi klub menjadi mandiri atau berprestasi di kompetisi regional semacam Liga Champions Asia. Tidak dengan prestasi pemain yang ditransfer ke liga negara lain yang lebih maju dari kita. Tidak dengan prestasi Timnas senior maupun Timnas juniornya yang merupakan muara sebuah kompetisi. Peringkat FIFA kita terus melorot dari posisi tertinggi ranking 86 sehari setelah Nurdin dilantik sebagai ketua PSSI tahun 2003 sampai posisi terendah ranking 141 pada oktober 2010. Januari ini disaat Piala Asia menggelar putaran finalnya, kita cuma bisa jadi penonton. Indonesia gagal lolos ke putaran final karena cuma menjadi juru kunci di penyisihan grup, padahal dalam 3 edisi sebelumnya kita selalu lolos ke putaran final. Timnas Sea Games 2009 dipencundangi oleh Laos yang selama ini jadi lumbung gol kita. Dan yang paling mengenaskan september lalu Timnas U-16 kita dikalahkan oleh Timor-timor, negara yang baru merangkak mandiri dan waktu masih bergabung dengan kita cuma ‘menghasilkan’ Miro Baldo Bento.
Setelah 15 tahun, seharusnya bukan hanya Arlan, Adam dan Ibu Guru Fatima yang ngenes, tapi juga seluruh rakyat indonesia. Apalagi para suporter sepakbola yang harusnya memahami benar masalah ini. Liga Super Indonesia (ISL) yang dimulai sejak 2008 dan dipromosikan sebagai babak baru sebuah kompetisi profesional di Indonesia pun bisa dengan mudah kita ragukan niatnya hanya dengan melihat konsep ISL itu sendiri. Kalau PSSI memang berniat untuk membentuk sebuah kompetisi profesional, kenapa saham PT Liga Indonesia, sebuah badan yang ditunjuk PSSI untuk meyelenggarakan ISL 95% dikuasai oleh PSSI dan 5% oleh yayasan PSSI. Tidak sepeserpun saham itu untuk klub-klub peserta. Dari sini saja kita sudah bisa melihat itikad jahat PSSI untuk menguasai seluruh keuntungan komersial yang diperoleh dari sponsor termasuk juga hak siar televisi yang tidak transparan.
Dengan konsep seperti itu dengan mudah kita simpulkan bahwa ISL memang didesain untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperdulikan nasib klub pesertanya sekaligus mengkondisikan klub peserta untuk terus-menerus menggunakan dana APBD. Sama sekali tidak ada langkah yang terstruktur dan jelas untuk membuat klub menjadi mandiri dan profesional. Di otak PSSI yang penting kompetisi terus berjalan meskipun menggunakan uang APDB. Persetan dengan klub mandiri, biarkan saja kalau klub gagal menggaji pemain, masa bodoh dengan kerusuhan suporter dan kepemimpinan wasit yang penuh mafia suap (masalah ini akan diangkat lebih detil dalam tulisan selanjutnya) asal duit sponsor dan hak siar televisi tetap masuk kantong.
Di tengah kondisi tanpa harapan seperti sekarang ini, kelahiran LPI patut di apresiasi. Belum banyak informasi yang bisa didapatkan tentang LPI kecuali dari penelusuran media. Tapi dari minimnya informasi itu terlihat bahwa LPI punya niat yang lebih baik dibanding ISL. LPI didesain mengubah mental klub dari pegawai menjadi wiraswasta. LPI bebas APBD karena dibiayai oleh konsorsium yang berisi pengusaha-pengusaha swasta yang memberikan pinjaman modal dan juga pendampingan manajemen untuk membentuk sebuah klub profesional sesuai dengan standar sepakbola modern. Pembagian saham liga sepenuhnya untuk klub dan hak siar televisi akan dibagi secara transparan. Diharapkan klub akan mandiri dalam waktu 4 tahun bahkan kalau tidak salah baca pada musim ke-7 klub-klub diharuskan IPO, mereka bisa menjual sahamnya ke masyarakat. Untuk membenahi kualitas kompetisi, pelatih-pelatih dengan sertifikasi EUFA PRO didatangkan, demikian juga marquee player dari liga-liga papan atas dunia, wasitpun sebagian dari luar negeri plus wasit-wasit piihan dalam negeri.
Dengan kompetisi yang fair dan profesional, tontonan akan semakin menarik, penonton akan berbondong- bondong ke stadion, membeli tiket dan merchandise asli, media akan meliput dan industri sepakbola akan menggelinding pada jalurnya. Hasilnya adalah klub-klub profesional dan mandiri.
Klub yang mandiri dan profesional mampu mendatangkan pelatih dan pemain asing berkualitas tinggi, menjadi panutan buat pemain dan pelatih lokal, sehingga kualitas kompetisi akan meningkat, kualitas individu dan teamwork pemain akan terkerek dan muaranya adalah timnas yang kuat dan disegani.
Dengan klub yang mandiri, kesejahteraan pemain akan meningkat. Pasar transfer dan kontrak pemain akan berputar berdasar prestasi. Selamat jalan cerita usang klub menunggak gaji pemain (termasuk pemain asing) yang mempermalukan nama bangsa.
Dengan klub yang mandiri APBD akan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Anggaran olahraga bisa tersebar merata ke semua cabang olahraga dan bisa membangun infrastruktur olahraga yang masih sangat kurang di negeri ini.
Semua memang masih berupa konsep, kita tinggal melihat apakah pelaksanaannya sebaik konsepnya, tapi seperti pesan almarhum ayah saya: “Kalo menilai sesuatu itu jangan dari wujudnya, tapi mulailah dari niatnya.” Saya kok yakin niatnya LPI itu baik:)
Nggak sabar menunggu 8 Januari 2011, Lets Change The Game.



UPDATE:
Meskipun belum juga dimulai, niat baik itu mulai berbuah. Karena PSM pindah ke LPI, Dana 9 milyar yang sebelumnya dianggarkan untuk PSM di tahun 2011 akan dipakai untuk membangun dan memperbaiki fasilitas olahraga di Makassar. Kabar baik itu juga datang dari Malang. Jatah APBD untuk Persema akan dialihkan untuk membangun 6 stadion bertaraf nasional di 6 kecamatan:)

0 komentar:

Post a Comment